Musuh Terbesar dalam Diri Kita

Banyak orang mungkin menyangka kalau kondisi yang sedang dihadapi sekarang merupakan akibat dari perbuatan orang lain. Misalnya mungkin sampai saat ini hidup pas-pasan akibat kondisi ekonomi orangtua yang dulunya tak mapan. Atau contoh lainnya misalkan hasil ujian sekolah buruk karena kawan tak mau meminjami contekan.

Pendeknya kita kerap menyalahkan banyak hal di luar diri kita. Padahal, persoalan terbesarnya justru terdapat dalam diri kita sendiri. Apakah itu?

Musuh terbesar kita sebetulnya adalah pikiran negatif yang bersarang dalam pikiran kita. Saat kesulitan atau hambatan muncul, pikiran negatif itu mulai bekerja menghembuskan pikiran-pikiran buruk, mencari-cari pembenarannya, dan berujung pada sebuah penilaian atau bahkan penghakiman.

Umpamanya:

* “Oh wajar dia lekas naik pangkat karena dekat dengan si Bos.”
* “Oh pantas dia cepat berhasil, karena kata-katanya yang muluk-muluk dan bombastis.”
* “Oh lumrah saya tak sukses, orang itu menghalangi kesuksesan saya.”

Adakah kalimat yang familiar dengan anda? Semoga tidak…

Semua penilaian bermula dari pikiran kita. Di setiap kondisi yang tak diharapkan, pikiran negatif tersebut akan memuntahkan kalimat-kalimat pembenaran yang mungkin sementara membuat anda “senang” karena memuaskan ego anda, namun sama sekali tak membantu mengubah hidup anda menjadi lebih baik.

Pikiran itu ibarat sopir yang menyetir dan mengarahkan kemana langkah anda selanjutnya. Andaikan anda mencari sopir, pastinya anda tak akan mencari sopir yang ugal-ugalan dan suka melanggar lalu lintas. Anda pastinya lebih memilih sopir yang patuh peraturan dan bertatakrama dalam berkendara sehingga membuat anda sampai ke tujuan dengan selamat.

Boleh saja anda membantah dan kembali menolak. Tapi sejatinya jika kita ingin mengubah diri kita menjadi lebih baik: mengapa kita fokus pada hal yang tidak kita inginkan dan bukan pada hal yang kita inginkan?

Jika anda ingin memperbaiki sepeda anda yang rusak, mengapa anda kalang kabut dengan sepeda orang lain yang baik-baik saja. Apakah dengan begitu sepeda anda akan kembali baik dengan sendirinya? Saya jamin tidak!

Itulah pentingnya mentalitas positif. Dari mental positif perubahan dalam hidup kita bermula. Lebih detailnya silakan baca kembali Bagaimana Keyakinan Membawa Kesuksesan di blog Mas Arief Maulana.

Jika anda memikirkan hal positif dan fokus pada yang anda inginkan, lebih mudah bagi anda mencapainya. Sebaliknya, jika anda fokus pada hal-hal yang tak anda inginkan, bisa jadi hal negatif itu mendekati diri anda. Logikanya sederhana. Jika anda fokus pada sesuatu yang tak anda inginkan, bisa jadi anda abai terhadap apa yang anda inginkan.

Mungkin anda bertanya kenapa pikiran negatif berbahaya? Disadari atau tidak, pikiran negatif bisa melemahkan diri anda, menghancurkan kepercayaan diri anda, membuat anda suka menyalahkan diri sendiri dan mungkin orang lain, membuat hidup seolah begitu berat untuk dijalani, serta yang terburuk berdampak membuat anda kehilangan harapan.

Sebaliknya bila anda memenuhi pikiran anda dengan pikiran positif, saya percaya wajah anda akan lebih cerah, anda lebih bersemangat untuk ACTION, anda merasa lebih kuat dan memiliki hidup yang layak diperjuangkan, dan anda masih memiliki harapan bahwa esok atau lusa hidup anda akan semakin baik, semakin baik, dan semakin baik.

Intinya adalah dalam pikiran kita. Kekuatan pikiran disebut Mas Wellsen sebagai kunci utama kesuksesan anda.

Apakah anda masih mau mengisi pikiran kita dengan berbagai pikiran negatif yang menghancurkan diri sendiri? Atau memenuhi pikiran kita dengan hal-hal positif yang membuat kita menjalani hidup lebih optimis setiap hari dan bertindak menuju sukses?
Netter Yth, Saya berikan artikel gratis ini bagi anda yang belum mendapatkan jodoh atau udah dapat tapi berniat tambah lagi...He...he...he.So, silahkan baca dan terapkan dan semoga anda dapat jodoh yang anda idam-idamkan....


Banyak pria dan wanita single yang prejudice akan lawan jenisnya. Yang berkarir tinggi menganggap tidak dapat jodoh karena laki laki takut akan title dan jabatannya. Yang memiliki kekurangan menganggap bahwa tidak dapat jodoh karena merasa kurang. Sebenarnya kuncinya cuma satu, bersihkan dulu hati dan pikiran Anda sebelum berniat mencari jodoh.

Saya bukannya menyombongkan diri, kalau Anda melihat wujud saya jauh dari kurang. Tubuh saya gendut dan pendek, kulit saya tidak putih. Pekerjaan dan prestasi akademis pun biasa saja. Tapi, saya sampai kewalahan dengan pinangan laki laki baik dimanapun saya berada. Kebetulan saya sudah berpindah negara sebanyak 5 kali. Tidak pernah sekalipun saya berada dalam status 'single'. Sampai sempat dicap playgirl. Karena saya date dengan laki laki berbeda setiap minggu. Sebenarnya tidak semua saya pacari, tetapi saya pergunakan waktu date untuk mengenal lebih jauh sifat laki laki tersebut.

Saya mau berbagi resep untuk yang kurang beruntung mendapatkan jodoh.

Pertama: Jangan Ngoyo. Ketika berkenalan dengan wanita/pria, jangan langsung memberi garis bawah 'saya mau cari suami/istri bukan cari pacar'�. Biarkan hubungan mengalir secara alami. Kalau memang jodoh akan bertaut, kalau tidak ya lepaskan. Kalau dari awal sudah memberi bendera, orang akan berpikir bahwa kita desperate sekali.

Kedua: Jangan takabur. Kalau memiliki kelebihan wajah, bentuk tubuh, jabatan, prestasi akademik, kadang membuat kita menjadi takabur. Walaupun berusaha untuk low profile, tetapi kalau masih berfikir 'saya punya kelebihan dari dia', tetap efeknya akan kelihatan. Contohnya: ah saya kan cantik, ngga dapat dia juga ngga apa apa. Ah saya kan kaya, ngapain juga saya ngejar dia, nanti dia cuma matre lagi. Pemikiran itu pasti akan timbul jika Anda terlalu takabur.

Ketiga: Jangan terlalu murah. Dalam arti ketika berkenalan dengan seseorang. Langsung berharap 'wah seAndainya dia pasanganku'. Karena beranggapan seperti itu, manusia cenderung menjadi possesif. Menelpon setiap hari, mengirim email atau chat setiap hari. Padahal baru ketemu 1 kali. Saya setiap berkenalan dengan pria dan bertemu di restaurant atau coffe shop, tidak pernah menelpon pria tersebut. Saya biarkan saja selama 1 minggu. Kalau dia tertarik pasti dia akan berusaha untuk menelpon kembali. Dan jika hubungan berlanjut, saya hanya menelpon dia sehari sekali. Beri space banyak banyak agar hubungan tidak jenuh.

Keempat: Jangan terlalu bergantung. Banyak wanita menganggap bahwa setiap kencan harus prialah yang membayar makanan. Saya pribadi tidak pernah membiarkan si pria membayar makanan pun kalau dianya memaksa membayar, di kencan berikutnya sayalah yang membayar makanan. Sekarang begini rumusnya: Pria juga bekerja keras mendapatkan uang sama dengan wanita. Jadi saya pikir, samalah posisinya.

Kelima: Banyak membaca. Dengan memiliki pengetahuan yang luas pembicaraan kan mengalir dengan lancar. Saya sering bertemu dengan pria pemalu. Mereka tidak tahu bagaimana memulai suatu percakapan. Biasanya saya yang selalu guide dia untuk bicara. Kalau saya mulai bicara topic satu kelihatan dia tidak interest, langsung saya ganti topic lain. Jangan putus asa memulai pembicaraan tapi jangan terus menerus bicara, beri kesempatan buat dia untuk memberi jawaban atau tanggapan. Tatap matanya langsung ketika dia bicara. Tempat yang cocok untuk memulai kencan, coffee shop, karena saya jamin tidak akan banyak waitress yang hilir mudik menganggu kalian.

Keenam: Keep trying and be yourself. Jangan pernah dengarkan pendapat orang lain mengenai si DIA. Tapi gunakan insting dan tampilkan diri Anda apa adanya.

Sumber: Tips Mencari Jodoh =====>(Ria Wasseff - USA)
Masih ingat AIDA+C? Ya, itulah rumus sales letter seperti pernah anda baca di SMUO. (formulabisnis) Dijelaskan, proses penjualan bermula dari menarik perhatian (attention), membangkitkan minat (interest), membangun hasrat (desire), membuat mereka melakukan tindakan (action), dan melakukan penutupan (closing).

Di sini saya tak bermaksud menjelaskan ulang rumus tersebut. Sebab pastinya bagi para member Formula Bisnis sudah membaca dan memahaminya dengan baik. Yang dijelaskan dalam posting ini lebih terfokus pada usaha closing saja. Bagaimana usaha closing yang anda lakukan mampu mengubah prospek menjadi pembeli?

Yang perlu dicamkan, closing pasti berhasil jika terjadi situasi menang-menang (win-win). Prospek merasa beruntung mendapatkan solusi terbaik dari produk/jasa anda, dan anda beruntung bisa membantu prospek mengatasi masalahnya. Jika hanya satu pihak saja yang merasa win, closing tak akan terjadi alias tak terjadi transaksi.

Kapan situasi win-win itu muncul? Kalau anda sebagai penjual, saya rasa selalu berada pada situasi siap menjual. Berarti yang perlu anda lakukan tinggal mendorong agar situasi win tersebut juga tercipta pada prospek anda.

Bagaimana caranya? Ada banyak teknik closing. Di antaranya seperti misalkan memberi pilihan kepada prospek. “Anda memilih yang ini atau yang itu?” Bisa juga dengan memberikan garansi, bonus, dan lainnya. Silakan baca lagi di Inilah 10 Rahasia Menjual Produk Lebih Cepat. Dan bagi yang mengandalkan iklan di koran, silakan baca Tips Meningkatkan Closing dari Koran di blog InhouseBusiness.

Lalu dari mana anda tahu suatu keadaan merupakan saat paling tepat melakukan usaha closing? Biasanya kita bisa tahu dari sinyal-sinyal yang dikirimkan prospek. Coba amati apakah prospek anda sudah terdorong untuk membeli? Dan apakah mereka siap membeli produk anda? Jika iya, segera lakukan closing.

Di situlah sensitifitas kita bermain untuk mengenali waktu closing itu tiba. Jam terbang anda selama ini dalam marketing akan meningkatkan sensitivitas anda untuk mengenali saat itu tiba. Kadang tak jarang, jika prospek sudah benar-benar berada dalam kondisi win, mereka yang akan meng-closing sendiri. Atau setidaknya membantu anda agar cepat melakukan closing.

Pada dasarnya closing hanya soal memahami. Bagaimana anda memahami kondisi prospek, apa saja yang ditakutkannya, apa saja yang membuat prospek ragu, dan apa sajakah yang diinginkan prospek. Bila anda mampu memahami keseluruhan kondisi prospek dengan baik, saya yakin closing hanya soal waktu. Contohnya seperti yang dialami Mas Mufli di sini.

Menurut pengalaman, sering usaha closing tak hanya dilakukan sekali. Bahkan bisa jadi berkali-kali. Karena itu usaha closing perlu diterapkan lewat berbagai jalur marketing. Selain lewat sales letter, juga melalui email marketing, dan blog.

Lalu bagaimana jika setelah anda berkali-kali usaha closing ternyata prospek tak kunjung melakukan seperti yang anda harapkan? Tak mengapa. Karena marketer profesional bukan hanya bertujuan mengclosing untuk penjualan semata, namun yang tak kalah penting adalah membangun hubungan baik. Ingat banyak teman banyak rejeki!
Marketer adalah ujung tombak sebuah bisnis. Tanpa adanya marketer yang handal, sebaik apapun produknya, bisa jadi tak laris diserap pasar. Karena itu para marketer termasuk yang paling sering mendapat perhatian dalam sebuah bisnis. Sebab kelangsungan sebuah bisnis bergantung pada para marketer.

Nah, marketer sendiri banyak macamnya. Mereka memiliki sifat dan karakteristiknya masing-masing. Di sini dikategorikan ke dalam enam tipe marketer. Mau tahu apa saja?

Berikut enam jenis marketer tersebut:

1. Tipe pedagang keliling. Ini merupakan jenis marketer yang hanya membawakan produknya kepada konsumen, tanpa peduli apa yang mereka butuhkan atau inginkan. Biasanya, marketer jenis ini lebih banyak bicara sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan atau keinginan prospek.
2. Tipe perengek. Tipe marketer seperti ini biasanya lebih menonjolkan dirinya daripada produknya. Mereka akan merayu habis-habisan bahkan terkadang berlebihan, seperti misalnya sampai merengek-rengek.
3. Tipe pasif. Marketer tipe ini biasanya sangat pasif dan cenderung tertutup. Jarang melakukan pendekatan kepada prospek. Dalam pikirannya, kalau prospek butuh pastinya akan membeli sendiri, tanpa perlu ditawari. Karena jarang melakukan pendekatan, maka hubungan yang dibangun kurang interaktif. Tipe marketer ini sebenarnya ingin melakukan pendekatan. Cuma kadang terhalang karena kurang percaya diri. Sehingga merasa malu jika menawarkan produknya.
4. Tipe penyerang lawan. Biasanya marketer jenis ini suka melakukan tindakan tak terpuji. Seperti menjelek-jelekkan produk kompetitor. Cara yang dilakukan mulai dari yang paling halus sampai yang paling jahat. Contoh mengembuskan isu tak sedap. Harapannya, ketika saingan telah habis, maka produknya yang akan menggantikan.
5. Tipe rata-rata. Tipe marketer ini mungkin yang paling banyak. Yakni marketer yang mengkombinasikan antara menjual produk dengan menjual dirinya. Sayangnya, teknik penawarannya terlalu standar atau kurang inovatif.
6. Tipe professional. Tipe marketer ini memperluas pandangan si prospek. Marketer menunjukkan kepada prospek bahwa dia menjual solusi untuk mengatasi sebuah masalah. Marketer tipe ini biasanya mendekati prospek dengan cara menggali kebutuhan atau keinginan propek. Baru ketika problem spesifik si prospek ditemukan, ditawarkan solusinya. Setelah penjualan terjadi pun, marketer profesional, seperti dijelaskan di blognya Mas Abowo, akan terus menjaga hubungan baik dengan customernya.

Kelebihannya lagi, marketer professional biasanya memiliki kreativitas tinggi. Sehingga sekalipun cara yang dilakukan sudah umum dilakukan banyak marketer, namun berkat kreativitasnya, mampu membuat cara yang biasa tersebut menjadi tak biasa.Contoh, umpamanya cara lazim promosi produk adalah dengan beriklan atau promosi baik di koran atau televisi. Tung Desem Waringin mempromosikan bukunya dengan menyebarkan uang dari udara.
Marketer professional sadar bahwa jika mereka mampu melakukan hal-hal yang mungkin sudah biasa namun dengan cara yang tak biasa, maka dia akan menarik perhatian banyak orang.
Judul posting ini sama dengan posting Mas Arif. Di sana Mas Arif mengatakan harga kesuksesan itu ditentukan tiga faktor utama yakni, keberanian bermimpi, merencanakan apa yang kita impikan, serta kesungguhan dan kegigihan dalam bertindak (ACTION).

Namun dalam pilihan ACTION, jalan yang kita lewati tak semulus jalan tol. Kerap ada hambatan, rintangan, dari yang sekecil kerikil sampai (mungkin) sebesar batu karang. Tapi apakah hanya karena itu kita akan berhenti dan menyerah untuk tak lagi ACTION?

“No pain, no gain.” Tak ada sukses tanpa perjuangan. Sukses tak akan turun dari langit begitu saja. Namun sukses merupakan hasil dari proses panjang yang berbuah manis pada akhirnya.

Saat rintangan itu datang, di sanalah komitmen dan keteguhan anda diuji. Memilih untuk STOP dan NO ACTION, atau memilih melanjutkan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita anda.

Ya, anda diukur bukan dari berapa kali terjatuh, namun berapa kali anda bangun dan bangkit kembali. Dalam hidup, rintangan dan masalah pastilah selalu ada. Tapi itu akan menempa anda menjadi orang yang kuat dan memang pantas untuk mendapatkan apa yang memang ingin anda capai.

Dan bila kita yakin dengan tujuan dan jalan yang kita tempuh, tinggal ketekunan yang berbicara. Ketekunan untuk bertahan dan terus ACTION.

Mungkin saja kita mudah terpesona dengan kisah sukses seseorang. Namun tak banyak orang yang (mau) tahu bagaimana dia mencapainya. Bagaimana dia melewati lika-liku kesulitan di awalnya. Bagaimana dia bertahan dan mengatasi segala kesulitan yang menerpa. Bahkan sampai penuh peluh dan ‘berdarah-darah’. Saya jadi ingat kisah inspiratif tentang anak raja dan sang jendral di sini.

Bayangan kenyamanan karena kesuksesan memang mudah membuat terlena. Namun ketika kita fokus pada ACTION, rasanya tak akan ada waktu lagi untuk berleha-leha. Energi dan waktu yang tersedia pastinya akan kita curahkan untuknya.

Diawali dari tindakan kecil, yang terus dilakukan secara berkelanjutan, dari sana, apa yang anda ingin capai ditentukan. Tak ada pencapaian besar tanpa diawali dari yang kecil. Seperti pendaki gunung, mereka menitinya dari bawah, dan terus mendaki, sampai akhirnya mencapai puncak.

Dan pada akhirnya apapun ACTION anda, lakukanlah dengan bermartabat. Bukan karena kecongkakan atau kesombongan anda. Sebab tindakan kita adalah cermin diri kita sendiri. Bila kita suka berkata kasar dan menyakitkan, maka seperti itu juga watak asli kita sendiri.

Pilihan ACTION itu seperti bumerang. Yang bila kita lemparkan dengan baik, maka akan kembali dengan baik. Sebaliknya bila melempar dengan cara yang salah, bisa jadi malah melukai diri sendiri.

Saya selalu teringat dengan kutipan kata bijak di blog Mas Arief, ”Dari pada kita memaki kegelapan, lebih baik segera mengambil dan menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan.”
top